Akhir
pekan di penghujung Oktober kali ini sedikit berbeda. Seharian saya mengurung
diri di kamar kos. Usai menyeruput kopi pagi, saya mengurungkan niat untuk
jalan-jalan entah kemana. Kali ini benar-benar hanya di kamar. Sesekali mengutak-atik
laptop, baring-baring dan kemudian tertidur pulas.
Beberapa
kali HPku bergetar, pertanda ada pesan masuk. Khusus hari ini, Group WhatsApp Muhibah
Dongeng, pesannya mendominasi dari semua group yang saya gabung. Maklum, hari
ini ada kegiatan Muhibah Dongeng yang diprakarsai oleh Forum Taman Baca
Masyarakat (FTBM) pusat.
Kegiatan
ini mengusung tema “Bangkit Bersama Melestarikan Budaya Bertutur (Dongeng)
Merayakan Bulan Bahasa”. Saya bersama ketiga belas teman dari berbagai daerah
di Indonesia terpilih menjadi pendongengnya. Ada Kak Aikoi (Papua Barat), Ariyani
(Sulawesi Selatan), Beatrix Aran (NTT), Bunda Ayung (Jawa Barat), Safarita
(Kepulauan Riau), Kak Awan (NTB), Ani Ratna Agustina (Kalimantan Barat), Yayat
dan Moli (DKI Jakarta), Bunda Lidya (Jawa Barat), Kak Dwi (Banten), Den Hasan
(Jawa Tengah), Ponco Budi Mulyono (Jawa Tengah), Bunda Suhartini (Kalimantan
Timur) dan Speak First.
Sejujurnya,
ini kali pertama saya membawakan dongeng untuk forum seresmi ini. bukan
apa-apa, tetapi lebih pada bagaimana saya harus berhadapan dengan audiens yang
kebanyakan adalah anak-anak usia TK-SD. Benar-benar menantang dan menyenangkan.
Singkat cerita, kali ini saya membawakan dongeng yang berjudul Kera dan Buaya. Mau
tahu ceritanya? Simak kisahnya di bawah ini yaa…..
Suatu
hari, seekor kera jantan mencari kepiting di tepi pantai. Ketika sedang asyik
mencari, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. “Eja, buat apa di situ? Itu
tempat berbahaya. Lagian sekarang ombak besar. Apa kau tidak takut?
Dengan
santai keras menjawab “Eja, supaya kau tahu e, tidak ada yang saya takut di
dunia ini. Tahu saya to, eja”. Buaya jantan itu pun mengangguk, pertanda
setuju.
“Eja
Kera, sudah lama seekali kita tidak ketemu. Dan setahu saya, tidak ada satu
setan, dua binatang pun di sini yang keberaniannya lebih dari eja”, kata buaya.
“kalau
eja tidak keberatan, kita ke rumah saya. Istri saya sedang sakit berat. Dia
butuh hiburan. Eja satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan istri saya”, jelas
buaya lagi.
Mendengar
hal itu, kera menjadi sedih. ia pun menyetujui permintaan si buaya. “Baik eja,
kita ke rumahmu sekarang. Tapi saya tidak bisa berenang”, kata kera.
“Eja
tenang, soal renang ada saya. Intinya eja mau ikut ke rumah saya. Eja tinggal
duduk di atas punggung saya. Saya akan antar sampai ke rumah”, kata buaya.
“Baiklah
kalau begitu, kita ke sana sekarang”, kera pun lalu melompat ke atas punggung
buaya. Mereka berdua menyeberangi muara, menuju rumah buaya.
Tidak
lama kemudian, mereka sampai di rumah buaya. Kera pun langsung menemui istri
buaya yang sedang terbaring sakit.
Di
rumah itu, kera dijamu dengan sangat baik oleh buaya dan keluarganya. Ia diberi
hidangan yang sangat istimewa.
Kepada
buaya, kera itu bertanya, “eja, sakitnya sudah berapa lama? Sudah pernah
berobat? Sudah pernah pergi ke orang pintar? Tidak boleh tinggal diam begini
eja. Eja harus cari jalan keluar. Biar istri eja cepat sembuh”
“sudah
lama eja, sakitnya. Sudah kasi obat juga tapi kondisinya masih seperti ini eja.
Akhir-akhir ini, dia pingin makan hati kera, eja. Satu-satunya obat agar bisa
sembuh, dia harus makan hati kera, eja”, kata buaya menjelaskan.
Mendengar
hal itu, kera mulai gelisah. Ia tahu nyawanya sudah di ujung tanduk. Ia
benar-benar telah dijebak. Sialnya lagi, ia tidak bisa berenang. Tapi kera
tidak hilang akal.
“Aduh,
benar eja. Saya baru ingat. Sakit model begini, obatnya hanya satu. Dia harus
makan hati kera, eja. Hati kera itu obat paling mujarab. Bisa menyembuhkan
segala macam penyakit”
“Kita
harus cari secepatnya. Biar istri eja bisa cepat sembuh”, kata kera.
“Sebenarnya kita tidak usah cari jauh-jauh, kalau eja jujur dengan saya dari
awal. Kan bisa pakai hatinya saya. Untuk eja, apa sih yang tidak bisa saya
kasi?
Tapi
eja tahu sendiri. Kalau jalan jauh seperti ini, apalagi harus lompat dari pohon
ke pohon. Saya copot hati saya dan gantung di pohon yang kelapa kemarin. Saya
takut dia jatuh pas saya lompat. Karena hati saya ini mahal eja. Obat paling
mujarab. Coba kemarin eja beritahu yang jujur, pasti saya bawa hati saya ke
sini.
Tapi
tidak usah gelisah eja. Kita bisa ke sana lagi sekarang, ambil hati saya yang
saya gantung di pohon kelapa kemarin. Demi kesembuhan istrinya eja, saya ikhlas”,
kata kera.
Mendengar
penjelasan kera, buaya menjadi sangat senang. Sebentar lagi istrinya akan
sembuh. Kera sudah merelakan hatinya untuk dimakan oleh istrinya.
“Kalau
begitu, kita ke sana sekarang”, kata buaya. Tanpa berlama-lama, kera pun
langsung melompat ke punggung buaya. Mereka pun kembali menyeberangi muara.
Buaya itu berenang sekuat tenaga agar cepat sampai di seberang.
Setiba
di seberang, kera langsung melompat ke darat dan cepat-cepat memanjat pohon
kelapa. Sedangkan buaya menunggunya di muara.
Menyadari
posisinya sudah aman, kera pun berkata kepada buaya. “eja, terima kasih banyak.
Sudah melayani saya dengan sangat baik di rumahmu. Terima kasih juga karena
sudah mengantar saya kembali ke sini. Saya sudah luput dari maut”.
Mana
mungkin hati kita dipisahkan dari tubuh kita dan kita bisa hidup. Itu mustahil.
Oleh karena itu, saya harap engkau pulang dan sampaikan salam hangatku kepada
istrimu bahwa harapannya hampa belaka.
Sampaikan
salamku untuk istrimu. Kalau dia mau cepat seembuh, suru dia makan hatinya eja
saja. Sampai jumpa di lain waktu eja eee.


