Kera Dan Buaya Di Muhibah Dongeng 2022

 


Akhir pekan di penghujung Oktober kali ini sedikit berbeda. Seharian saya mengurung diri di kamar kos. Usai menyeruput kopi pagi, saya mengurungkan niat untuk jalan-jalan entah kemana. Kali ini benar-benar hanya di kamar. Sesekali mengutak-atik laptop, baring-baring dan kemudian tertidur pulas.

 

Beberapa kali HPku bergetar, pertanda ada pesan masuk. Khusus hari ini, Group WhatsApp Muhibah Dongeng, pesannya mendominasi dari semua group yang saya gabung. Maklum, hari ini ada kegiatan Muhibah Dongeng yang diprakarsai oleh Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) pusat.

 

Kegiatan ini mengusung tema “Bangkit Bersama Melestarikan Budaya Bertutur (Dongeng) Merayakan Bulan Bahasa”. Saya bersama ketiga belas teman dari berbagai daerah di Indonesia terpilih menjadi pendongengnya. Ada Kak Aikoi (Papua Barat), Ariyani (Sulawesi Selatan), Beatrix Aran (NTT), Bunda Ayung (Jawa Barat), Safarita (Kepulauan Riau), Kak Awan (NTB), Ani Ratna Agustina (Kalimantan Barat), Yayat dan Moli (DKI Jakarta), Bunda Lidya (Jawa Barat), Kak Dwi (Banten), Den Hasan (Jawa Tengah), Ponco Budi Mulyono (Jawa Tengah), Bunda Suhartini (Kalimantan Timur) dan Speak First.


Sejujurnya, ini kali pertama saya membawakan dongeng untuk forum seresmi ini. bukan apa-apa, tetapi lebih pada bagaimana saya harus berhadapan dengan audiens yang kebanyakan adalah anak-anak usia TK-SD. Benar-benar menantang dan menyenangkan. Singkat cerita, kali ini saya membawakan dongeng yang berjudul Kera dan Buaya. Mau tahu ceritanya? Simak kisahnya di bawah ini yaa…..

 


Suatu hari, seekor kera jantan mencari kepiting di tepi pantai. Ketika sedang asyik mencari, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. “Eja, buat apa di situ? Itu tempat berbahaya. Lagian sekarang ombak besar. Apa kau tidak takut?

 

Dengan santai keras menjawab “Eja, supaya kau tahu e, tidak ada yang saya takut di dunia ini. Tahu saya to, eja”. Buaya jantan itu pun mengangguk, pertanda setuju.


“Eja Kera, sudah lama seekali kita tidak ketemu. Dan setahu saya, tidak ada satu setan, dua binatang pun di sini yang keberaniannya lebih dari eja”, kata buaya.


“kalau eja tidak keberatan, kita ke rumah saya. Istri saya sedang sakit berat. Dia butuh hiburan. Eja satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan istri saya”, jelas buaya lagi.


Mendengar hal itu, kera menjadi sedih. ia pun menyetujui permintaan si buaya. “Baik eja, kita ke rumahmu sekarang. Tapi saya tidak bisa berenang”, kata kera.


“Eja tenang, soal renang ada saya. Intinya eja mau ikut ke rumah saya. Eja tinggal duduk di atas punggung saya. Saya akan antar sampai ke rumah”, kata buaya.


“Baiklah kalau begitu, kita ke sana sekarang”, kera pun lalu melompat ke atas punggung buaya. Mereka berdua menyeberangi muara, menuju rumah buaya.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah buaya. Kera pun langsung menemui istri buaya yang sedang terbaring sakit.


Di rumah itu, kera dijamu dengan sangat baik oleh buaya dan keluarganya. Ia diberi hidangan yang sangat istimewa.


Kepada buaya, kera itu bertanya, “eja, sakitnya sudah berapa lama? Sudah pernah berobat? Sudah pernah pergi ke orang pintar? Tidak boleh tinggal diam begini eja. Eja harus cari jalan keluar. Biar istri eja cepat sembuh”


“sudah lama eja, sakitnya. Sudah kasi obat juga tapi kondisinya masih seperti ini eja. Akhir-akhir ini, dia pingin makan hati kera, eja. Satu-satunya obat agar bisa sembuh, dia harus makan hati kera, eja”, kata buaya menjelaskan.


Mendengar hal itu, kera mulai gelisah. Ia tahu nyawanya sudah di ujung tanduk. Ia benar-benar telah dijebak. Sialnya lagi, ia tidak bisa berenang. Tapi kera tidak hilang akal.


“Aduh, benar eja. Saya baru ingat. Sakit model begini, obatnya hanya satu. Dia harus makan hati kera, eja. Hati kera itu obat paling mujarab. Bisa menyembuhkan segala macam penyakit”


“Kita harus cari secepatnya. Biar istri eja bisa cepat sembuh”, kata kera. “Sebenarnya kita tidak usah cari jauh-jauh, kalau eja jujur dengan saya dari awal. Kan bisa pakai hatinya saya. Untuk eja, apa sih yang tidak bisa saya kasi?



Tapi eja tahu sendiri. Kalau jalan jauh seperti ini, apalagi harus lompat dari pohon ke pohon. Saya copot hati saya dan gantung di pohon yang kelapa kemarin. Saya takut dia jatuh pas saya lompat. Karena hati saya ini mahal eja. Obat paling mujarab. Coba kemarin eja beritahu yang jujur, pasti saya bawa hati saya ke sini.


Tapi tidak usah gelisah eja. Kita bisa ke sana lagi sekarang, ambil hati saya yang saya gantung di pohon kelapa kemarin. Demi kesembuhan istrinya eja, saya ikhlas”, kata kera.


Mendengar penjelasan kera, buaya menjadi sangat senang. Sebentar lagi istrinya akan sembuh. Kera sudah merelakan hatinya untuk dimakan oleh istrinya.


“Kalau begitu, kita ke sana sekarang”, kata buaya. Tanpa berlama-lama, kera pun langsung melompat ke punggung buaya. Mereka pun kembali menyeberangi muara. Buaya itu berenang sekuat tenaga agar cepat sampai di seberang.


Setiba di seberang, kera langsung melompat ke darat dan cepat-cepat memanjat pohon kelapa. Sedangkan buaya menunggunya di muara.


Menyadari posisinya sudah aman, kera pun berkata kepada buaya. “eja, terima kasih banyak. Sudah melayani saya dengan sangat baik di rumahmu. Terima kasih juga karena sudah mengantar saya kembali ke sini. Saya sudah luput dari maut”.


Mana mungkin hati kita dipisahkan dari tubuh kita dan kita bisa hidup. Itu mustahil. Oleh karena itu, saya harap engkau pulang dan sampaikan salam hangatku kepada istrimu bahwa harapannya hampa belaka.


Sampaikan salamku untuk istrimu. Kalau dia mau cepat seembuh, suru dia makan hatinya eja saja. Sampai jumpa di lain waktu eja eee.

DE NIOROMU

De Nioromu adalah kebun virtual yang digarap oleh Baldus Sae. Seorang pemuda kampung yang ingin hidup abadi di kolong langit. Menulis (blogging) adalah caranya merawat mimpi menjadi abadi. Baldus Sae, alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira - Kupang (2019). Aktif terlibat di gerakan sosial kemanusiaan bersama Flores Children Development (FREN) Mitra ChildFund International sebagai Project Coordinator Disaster Risk Managemen (DRM). Menjadi jurnalis dan editor di Media Pendidikan Cakrawala NTT (cakrawalantt.com) dan jurnalis pariwisata East Nusa Tenggara (eastnusatenggara.id). Sering terlibat dalam berbagai kompetisi Blog dan lomba menulis. Beberapa lomba yang dimenangkan yaitu, Juara II MyRepublic Blog Competition (2022), Juara II Lomba Karya Jurnalistik Jasa Raharja NTT (2022), Juara II Lomba Debat Mahasiswa Nasional Event of Glostic, Padang State University (2018), dan lain sebagainya. De Nioromu berikhtiar menyajikan tulisan seputar pesona alam dan budaya, catatan jurnalistik, feature, dan catatan ringan lainnya. Pokoknya it's all about Baldus Sae's passion, Travelling and Life Story.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama