“Sekolah tinggi-tinggi, pulang kampung lalu jadi
petani? Lemas bestie…! Percuma orang tua kasi kau sekolah, utang sana-sini lalu
kau jadi petani”. Aneka cibiran demikian tak jarang kita dengar takkala ada
orang muda yang memilih menjadi petani di kampung halamannya sendiri.
Pertanyaannya, benarkah pertanian hanyalah urusan
orang-orang yang tidak mengecap asyiknya bangku pendidikan? Pertanian adalah
urusan segelintir orang buta huruf yang tidak mendapat kesempatan kerja di
lembaga dan kantor-kantor pemerintah? Bagaimana ceritanya kalau suatu saat
nanti tidak ada lagi manusia buta huruf di negeri ini? Sektor pertanian mati,
lalu kita mau makan apa? Sejatinya, pertanian bukanlah jenis pekerjaan yang
hanya dapat dilakoni manusia buta huruf.
Tidak. Tidak. Menjadi petani adalah hak segala bangsa,
manusia segala usia. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi petani. Selagi ada
kemauan, niat, dan tekad, anda dan saya bisa menjadi petani. Menjadi petani itu
keren. Sukses lewat jalur pertanian untuk kaum milenial itu keren kan?
Bicara tentang petani milenial, ini ada satu kisah
dari lereng gunung Egon Maumere, NTT. Desa
ini terletak di arah timur Maumere, 30 Km jauhnya dari pusat kota. Untuk sampai
ke sini, waktu tempuhnya tidak lebih dari setengah jam menggunakan kendaraan
roda dua maupun roda empat.
Untuk ukuran Maumere, desa ini tergolong subur. Ya wajar,
kan kalau gunung Egon meletus, laharnya kan lari ke situ. Tak heran, desa ini
kaya akan aneka tanaman hortikultura. Sebetulnya, desa ini secara alamiah sudah
mengkondisikan penduduknya untuk hidup sejahtera. Ya dengan bertani, sudah
pasti akan menghasilkan.
Omong-omong soal pertanian, ternyata cerita di desa
ini tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Seperti yang sudah disinggung di
awal, dunia pertanian hanyalah urusan orang-orangtua. “Orang mudanya lebih
memilih menjadi tukang ojek dibanding harus turun ke sawah. Malas berurusan
dengan lumpur, takut kotor”, demikian pengakuan Novianti, salah satu petani
milenial asal desa itu.
Berbeda dengan pemuda lainnya, Novianti melihat
pertanian sebagai lahan garapan yang menjanjikan. Itu makanya, Novianti memilih
menjadi petani, di sela-sela kesibukan kuliahnya. Novianti sendiri merupakan
seorang mahasiswi di salah satu kampus swasta di Maumere. Menarik bukan?
Nah, sebetulnya ada cerita dibalik kisah Novianti
memilih menjadi petani. Di tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 merebak massif,
banyak aktivitas yang melibatkan orang banyak dihentikan sementara, seperti
halnya kuliah. Novianti yang pada saat itu sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata
(KKN) merasakan dampaknya. KKN terpaksa dihentikan. Novianti dan teman-temannya
dipulangkan ke rumah.
Di rumahnya, Novianti sendiri bingung mau buat apa. Waktu
luangnya terbuang percuma. Akhirnya terbersit di pikirannya, ia harus melakukan
sesuatu agar bisa menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan di rumah serta menghasilkan
uang.
Beruntung, waaktu itu ada sebuah LSM, Flores Children
Development (FREN) namanya mengadakan pelatihan kewirausahaan bagi anak-anak di
desa Egon. Novianti memilih ikut. Kesempatan ini ternyata membawa berkah untuk
dirinya. Berbekal ilmu yang didapat pada saat pelatihan, Novianti dan
teman-temannya memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Novianti sendiri memilih menanam bawang. Urusan bibit
dan pupuk itu dibantu oleh pihan FREN. Ia hanya siap bekerja. Berkat ketekunannya,
panenannya pun melimpah. Di bulan Agustus, Novianti berhasil melakukan panen
perdana bawang yang ia tanam. Uang hasil penjualan bawangnya ia gunakan untuk
membeli kebutuhan sehari-hari dalam rumah dan juga untuk membiayai kuliahnya.
Bagaimana? Sampai sini paham kan? Ya, jadi petani itu
tidak banyak syaratnya. Selagi ada niat dan mau tekun mengerjakannya, pasti ada
hasil. Jadi petani itu keren dan mulia loh. Coba bayangkan kalau tidak ada satu
manusia di Indonesia ini yang tidak mau menjadi petani? Hancur bukan?

Mantap abang kisah inspiratif bagi petani milenial. 🔥
BalasHapus