“Di Lokaria Indah
Beach, kami bercerita tentang gerimisnya Ende yang mengguyur rindu. Perihal Maumere
yang enggan hujan, juga Larantuka, Solor, dan Adonara yang membara. Di Lokaria
kami bercerita tentang kerja dan kewirausahaan. Menata hari tua dengan
memanfaatkan peluang yang kami jumpai.
Senin, 17 Oktober 2022.
Usai memfasilitasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Desa
Nanganesa, Ende yang diinisiasi oleh Yayasan FREN, saya bergegas ke Maumere. Perjalanan
menuju Maumere ditempuh kurang lebih empat jam lamanya menggunakan travel. Ongkos
perjalanan sedikit lebih mahal dari biasanya menjadi Rp 120.000, imbas dari
kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu.
Jalur darat Ende
Maumere tergolong ekstrem untuk mereka yang terbiasa melewati jalur Tol. Bagaimana
tidak, tikungan tajam yang meliuk-liuk sepanjang jalan menjadi teman setia
perjalanan. Terkadang bikin oleng dan mengguncang isi perut. Tidak sedikit yang
mual dan muntah-muntal.
Untung saja saya tidak
kehilangan akal. Sebelum naik travel, saya mengoleskan sedikit pepsodent
melingkari pusar. Ini obat warisan mama yang paling mujarab hingga hari ini. Sore
itu, penumpang menuju Maumere hanya kami bertiga. Tiga penumpang lainnya turun
di Detusoko, 30 KM jauhnya dari pusat Kota Ende.
Sepanjang perjalanan,
sopir memutarkan lagu-lagu beraneka genre. Mulai dari Dangdut, Jazz, Rock dan
sesekali musik Reggae. Seingatku, lagu Just an Illusion yang dibawakan Julia
Zahra adalah lagu terakhir yang diputarkan sesaat sebelum kami turun makan di
Wolowaru.
Selepas makan, kami
melanjutkan lagi perjalanan. Menerobos jalan berliku. Sesekali kepala dibanting
ke kiri dan kanan, musabab kontur jalan yang bertikung tajam kiri dan kanan. Tapi
apa mau dikata, perjalanan harus terus dilanjutkan. Ada sekelompok anak muda
asal Sikka dan Flores Timur yang menunggu di Lokaria Indah Beach.
Ya, perjalanan kali ini
memang bertujuan untuk bertemu orang-orang muda nan hebat ini. Selama kurang
lebih lima hari kami akan berbagi cerita dan inspirasi dalam kegiatan pelatihan
kesiapan kerja bagi orang muda. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Flores
Children Development, mitra ChildFund International. Sebagai bagian dari
Yayasan FREN saya dilibatkan dalam kegiatan ini menjadi fasilitator.
Pukul 19:25 WITA,
travel yang saya tumpangi itu berhenti persis di depan Hotel Lokaria Indah
Beach. Setelah menyelesaikan administrasi perjalanan, saya bergegas menuju
Lobby Hotel menemui Receptionist, menanyakan kamar yang sudah diregistrasi
sebelumnya oleh Abang Herry, PIC Project Energy Yayasan FREN.
Oleh Receptionist, yang
ternyata adalah anak magang dari salah satu SMK di Maumere ini, saya diberi
kunci kamar bernomor 307. Di lantai dua letaknya. Berhubung teman-teman panitia
dan peserta sedang makan malam, saya memilih bergabung. Mengganjal perut
sebelum tidur. Menu malam itu cukup spesial. Kuah asam khas Lokaria, sayur kol,
ikan goreng dan sambal pedas yang menggoda lidah.
Singkat cerita, malam
itu kami menghabiskan sepersekian jam lamanya sebelum tidur, berdiskusi ringan
terkait kegiatan esok harinya. Ya, namanya juga kegiatan dengan orang muda. Harus
dipikirkan cara dan metode pelatihan yang unik lagi menarik biar pesannya
tersampaikan dan dicerna dengan baik.
Jujur harus diakui,
dibutuhkan usaha ekstra untuk membangkitkan semangat anak-anak muda ketika
mengikuti pelatihan dengan durasi lebih dari sehari. Tidak sedikit peserta yang
cepat merasa bosan mengikuti pelatihan, musabab materi yang disampaikan lebih
bernuansa ceramah.
Malam kian larut.
Desiran ombak di pantai Lokaria mengayun syahdu. Zat azam laut ditiupkannya
perlahan ke arah kami. Perlahan, mata mulai sayup dan terkatup rapat. Lokaria
memang pandai menghipnotis tamu-tamunya.

