Mentari merangkak perlahan menuju ufuk barat. Ritual pamitannya membiaskan warna yang elok dipandang mata. Tak heran, banyak orang memburunya diberbagai titik. Menantikan detik-detik tenggelamnya senja bersama orang-orang terkasih. Katanya romantika senja mampu membenamkan cinta sampai ke sum-sum tulang.
Sore ini, seiring dengan mentari yang perlahan merangkak ke ufuk barat, saya menyusuri jalur selatan Ende. Selepas Wozomunde, saya menyambangi Nangakeo. Meliuk-liuk menuju Raba. Melewati Nangaba dan Puumbara. Seperti biasanya, saya melaju kencang, sambil sesekali menginjak pedal rem untuk mengurangi laju kendaraan di tikungan tajam dan jalan berlubang. Bukan Valentino Rossi, soalnya.
Selepas Puumbara, saya terkesima dengan pemandangan pantai di Kampung Barai. Sebuah kampung pesisir yang rumah penduduknya menjorok hingga bersua lautan. Sudah dapat dipastikan, deburan ombak bakal menjadi teman setia sepanjang hari musabab tembok belakang rumah bersisian langsung dengan air laut. Kadang di saat ngelantur, saya membayangkan anak-anak Barai memancing ikan dari dalam rumah. Dibuangnya mata kail lewat jendela, tunggulah beberapa saat dan ikan pun bakal memberontak di ujung kail.
Dari Barai menuju Mbomba hingga Ndao, pemandangan pantai sungguh memanjakan mata. Perjalanan menuju kota Ende dari arah barat ditemani hembusan angin pantai dan gemuruh ombak. Sungguh elok pemandangannya. Sesekali kita dikagetkan dengan jalan berlubang. Juga lajunya kendaraan di tikungan yang enggan pelan.