Sepotong Cinta di Penggajawa



Beberapa hari belakangan ini, cuaca memburuk. Langit nampak murung, juga laut  enggan tersenyum. Konsekuensi paling sederhana adalah melonjaknya harga ikan di pasar. Sesederhana itu, musabab nyali pelaut tak sebanding dengan ganasnya ombak pantai selatan pada musim-musim seperti ini.


Siang itu, senin (09/01/2023), usai berkantor, kami bergegas ke Nangapanda. Menemui Camat, meminta tanda tangannya untuk urusan di Bank. Perjalanan menuju Nangapanda ditempuh kurang lebih setengah jam. Kami berkendara perlahan, menikmati asinnya aroma laut dan kelokan tajam sepanjang jalan.


Sekitar pukul 11.00 WITA, kami tiba di Nangapanda. Kebetulan di depan Pasar, kendaraan mengantri panjang dan kami turut serta dalam antrian tersebut. Panas bukan main tapi apa mau dikata, ini hari pasar. Kendaraan dan dagangan berjubel di bibir jalan tanpa peduli lalu lintas penumpang di jalan raya.


Lewat sisi kanan, kami merangsek masuk melewati truk ekspedisi Ende-Surabaya untuk segera menemui Pak Camat di kantornya. Sayangnya, dari arah berlawanan, beliau dengan rombongannya turut antri dengan mobil dinasnya. Kami bergegas balik, membututinya yang ternyata berbelok ke arah Polsek Nangapanda. Kami menemuinya di sana.


Setelahnya, kami kembali ke Ende. Musabab terik yang kian menyengat dan mata yang perlahan sayup akibat kantuk, kami memutuskan untuk rehat sejenak di Penggajawa. Tapatnya di Pondok Makan Batu Hijau. Kami menyeruput kopi dan es jeruk di sini. Sensasinya bikin candu. Aroma minuman bercampur asinnya laut menyatu di rongga mulutmu.



Penggajawa bukan pantai biasa. Berbeda dari pantai pada umumnya, pesisirnya dihiasi batu-batu mungil nan cantik aneka warna. Melepas lelah dan penatmu di sini adalah pilihan yang tepat bagi para pecinta laut dan senja. Penggajawa mampu menyihir lelah dan penatmu. Ia mampu menyuntikkan energi positif untuk melanjutkan harimu.


Soal spot foto yang isntagramable, Penggajawa juaranya.  Pendaran cahaya batu dan buih ombak serta lautan yang membiru sempurna siap menjadi latar gambarmu yang cantik dan menawan. Eksotika pantai Penggajawa sungguh luar biasa. Tak perlu merogoh kocek dalam jumlah banyak untuk datang ke sini.



Siang itu, kami berteduh di lopo pinggir pantai. Meneguk cinta sembari merayakan rindu bersama asinnya Penggajawa. Rindu terbayar tuntas di sini. Aneka cerita mengalir begitu saja. Senyum dan tawa mewarnai eloknya Penggajawa di siang terik. Terima kasih Penggajawa untuk sepotong cerita di siang bolong itu. Sampai jumpa di musim berikutnya.  Tetap cantik dan jangan pudar pesonamu.

DE NIOROMU

De Nioromu adalah kebun virtual yang digarap oleh Baldus Sae. Seorang pemuda kampung yang ingin hidup abadi di kolong langit. Menulis (blogging) adalah caranya merawat mimpi menjadi abadi. Baldus Sae, alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira - Kupang (2019). Aktif terlibat di gerakan sosial kemanusiaan bersama Flores Children Development (FREN) Mitra ChildFund International sebagai Project Coordinator Disaster Risk Managemen (DRM). Menjadi jurnalis dan editor di Media Pendidikan Cakrawala NTT (cakrawalantt.com) dan jurnalis pariwisata East Nusa Tenggara (eastnusatenggara.id). Sering terlibat dalam berbagai kompetisi Blog dan lomba menulis. Beberapa lomba yang dimenangkan yaitu, Juara II MyRepublic Blog Competition (2022), Juara II Lomba Karya Jurnalistik Jasa Raharja NTT (2022), Juara II Lomba Debat Mahasiswa Nasional Event of Glostic, Padang State University (2018), dan lain sebagainya. De Nioromu berikhtiar menyajikan tulisan seputar pesona alam dan budaya, catatan jurnalistik, feature, dan catatan ringan lainnya. Pokoknya it's all about Baldus Sae's passion, Travelling and Life Story.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama